Susahnya Cari Pembantu

3 minggu yang lalu, gue akhirnya pindah ke rumah kreditan yang akhirnya kelar juga dibangun dari jaman Roro Jongrang masih perawan.

Rumah kreditan baru gue ini lumayan jauh dari kota, sekitar 3 hari 2 malam jika ditempuh dengan berjalan pake 1 kaki. Siklus tidur gue juga jadi agak terganggu karena gue harus bangun lebih pagi, soalnya jarak rumah kreditan baru - kantor lumayan jauh, sekitar 1/5 jarak Bumi - Neptunus.

Pada suatu malam yang sepi, gak ada petir, gak ada hujan, gue ngerasa laper bukan main. LAPER BUKAN MAIN. Entah karena gue rajin shalat atau bersedekah, tiba-tiba ada seperti malaikat yang berbisik, “udah pesen McD aja.” Tanpa pikir panjang, gue langsung nelpon 14022, yang tentu aja salah sambung karena itu nomor telepon KFC. Gue nelpon 14045, kurang lebih percakapannya gini:

14045: “Malam, dengan McD biaa dibantu?”

Cowok macho: “Ini Tyas, bisa bicara dengan Raline Shah? Eh maksud saya, bisa pesan antar, mas?”

14045: “Ngg… Pak Tyas alamatnya masih sama?”

Cowok macho: “Enggak mas, saya sudah pindah ke Villa Citra Estate II Blok B No. 10 (bukan alamat sebenarnya, karena rumah di perumahan itu harganya setara dengan harga diri Bezita, tinggi banget.)

14045: “Mohon maaf pak Tyas, daerah tempat bapak tinggal sudah di luar jangkauan service kami. Demi keamanan dan kenyamanan bersama, kami tidak bisa mengantar ke tempat bapak.”

Cowok macho yang kelaperan: “Bedebah kalian.”

Bukan hanya McD yang angkat tangan, bahkan beberapa temen gue yang selera humornya rendah juga nyerah buat ke rumah kreditan baru gue ini.

Macho Man: “Bro, lo lagi di mana? Sama siapa? Semalam berbuat apa?”

Teman: “Lagi sama bla bla bla nih, kenapa?”

Macho Man: “Maen dong ke rumah baru gue. Bawa makanan ye!”

Teman yang menganggap dirinya bisa melucu: “Waduh, man. Paspor kita pada mati, imigrasi udah tutup jam segini. Takut ditangkep Interpol di daerah elu ntar.”

Ngehe.

Long story short, karena laundry kiloan  (yang murah) jauh dari rumah, seminggu ini gue sibuk nyari pembantu. Hari gini nyari pembantu yang kompeten (yang murah) dan berdedikasi tinggi (rela kerja dengan gaji rendah) bukan perkara mudah.

Dulu gue pernah punya pembantu, tugasnya cuma gosok & cuci baju. Kerjanya duile. 5 menit ngegosok, 10 menit sms-an sama gebetannya, lanjut ngegosok lagi 10 menit, telponan sama satpam komplek 30 menit. Dia kelar ngegosok, gue udah punya 4 anak yang nakal, 2 cucu yang lucu dan 1 kucing yang lagi sakaratul maut.

Pernah suatu saat dia ngegosok kaus gambar Marilyn Monroe gue, pas selesai digosok, eh berubah jadi Olga Syahputra (baca: ancur), dan entah berapa kaus putih Playboy KW 2 gue yang luntur pas dicuci dia. Saat itu gue langsung sadar, tukang gosok dan cuci baju-nya Ryan Gosling pasti bukan manusia biasa. Hasil kerjanya selalu keren.

Semalem, gue abis wawancara salah satu CaPem yang datang melamar, dilihat dari garis tangan dan cara dia ngelepas sendal pas masuk rumah sih keliatannya dia berpengalaman. Wawancara berjalan lancar, kami menemukan chemistry yang cukup kuat saat ngobrol. Orangnya perhatian banget, nanya gue kerja di mana, berangkat jam berapa, dsb. Mulai ngerasa nyaman sama dia, gue akhirnya memutuskan untuk menikahi dia, hidup bahagia, punya 4 anak yang nakal, 2 cucu yang lucu dan 1 kucing yang lagi sakaratul maut. YA ENGGAK LAH!

Wawancara memasuki topik sensitif, “GAJI”. Pas gue tanya dia minta berapa, entah kenapa kuping dan hidung gue langsung ngeluarin darah. Bukan, gue yakin bukan karena si CaPem ini minta gaji 2x lipet lebih besar dari gaji pembantunya Aburizal Bakrie. Bukan…

Mitos itu benar, semua hal kalo lagi dicari emang susah, mulai dari gunting kuku sampe pembantu, dari duit sampe jod…ah, sudahlah.

"There’s a little sorrow in everyone. Some people just know how to smile better."

#GagalMoveOnUnite

There’s “ME” in “BOOMERANG”. Maybe that’s why i keep coming back even though you threw me away.

Can i get a “You’re welcome, Ryan Gosling”?

Di Twitter, gue lumayan dapet banyak (by banyak, i mean 3-4) permintaan dari orang-orang kurang kerjaan  temen-temen yang follow gue untuk lebih sering posting di sini. Gue cuma bisa bilang “soon ya”, karena kalo gue bilang “sun dong” takut digampar.

Well, jujur, setiap gue dapet mention permintaan, permohonan kayak gitu (meskipun gue tau kalian pura-pura doang biar gue mention balik), rasanya SENENG BANGET! Gue bahkan ngasih anak tetangga gue yang nakalnya bukan maen duit ceban, saking senengnya.

So, guys, thank you so much for pretending to care being so nice to me.

#AIHMATEKYASSS

"Hingga kesempatan lain datang, sampai semesta berbaik hati mengulang, aku akan sabar menunggu, hingga akhirnya lelah debarku."

Pemalu Yang Terpaku

Senyum itu begitu membekas, begitu dalam kakinya meninggalkan tapak tilas.

128 jam berselang, setelah menahan rindu yang terus berulang, kesempatan itu datang.

Aku bertemu lagi dengan pemilik senyuman itu. Seolah tak ingin membuang waktu, ragaku bergerak mendekat, agar mudah mataku menatap lebih lekat.

Denting waktu berdetak memburu, ia tak peduli meski lidahku kelu.

Ia tahu berapa lama aku menunggu saat ini tiba, ia tahu betapa ingin aku menyapa.

Keberanian tak kunjung datang, sang pemilik senyuman berlalu pelan, bergegas pulang.

Bisa kudengar rak buku memaki dengan kesal, mencemoohku yang terdiam penuh sesal.

Senja Yang Tidak Kita Duga

Sebelumnya saya beserta staff dan para kru (emang ada?) yang terlibat dalam pembuatan isi tumblr ini, ingin meminta maaf kepada para segenap para fans dan pembaca setia (emang ada?) tumblr ini.

Belakangan ini gue emang disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang diberikan ke gue agar si pemberi kegiatan tersebut tidak disibukkan oleh kegiatan ini. Kampret.

Yang udah pada baca postingan gue sebelumnya, pasti tau kalo gue bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang logistik. Nah, akhir-akhir ini lalu lintas pengiriman barang antar pulau entah kenapa mendadak padet banget. Gue yang biasanya di kantor bisa santai minum kopi sambil streaming di http://www.tblop.com/, jadi harus bolak-balik ngurusin hal yang sebenernya-gampang-tapi-dibuat-susah-sama-pegawai-pelabuhan.

Beklah, kita masuk ke inti cerita. Jadi, hari Minggu kemaren gue bangun jam 6 pagi seperti biasa. Seperti manusia modern pada umumnya, gue bangun tidur langsung ngecek handphone. Ada 27 email masuk, salah satunya dari bos gue. Yang isinya kurang lebih gini:

Dear Tyas,

Saya tahu kamu akan kaget membaca isi email ini, karena itu tolong matikan lagu Adele yang dari semalam anda putar non-stop itu.

Yakali gue bisa tau lo denger apaan semalem suntuk.

Tyas, saat kamu baca email ini mungkin saya sudah berada di dalam pesawat menuju Palangkaraya untuk keperluan mendadak. Tidak, kamu tidak perlu sedih, karena saya pasti akan pulang hidup-hidup. Saya belum siap mati, yas..

Ok, langsung ke topik, tolong kamu temui klien baru kita di D’arte sore ini jam 4. Tolong kamu pelajari baik-baik lebih dahulu presentasi yang saya lampirkan. 

Good luck.


Gue kaget gak ketulungan dan kecewa luar biasa, kok bisa-bisanya Dian Sastro mau foto sama Robert Parkinson Pattinson?!

Jaka Sembung makan beling. Gak nyambung woy, Ryan Gosling.

Setelah berhasil menenangkan diri dengan beberapa gelas air putih dan 2 bungkus Indomie goreng, gue pun bergegas mempelajari bahan presentasi hibahan itu. 16 slide. ENAM BELAS!

Kalau memang ada hal yang lebih menyebalkan dari nonton Pilih-Pilih Mantu bersama Mie Sedaap di ANTV, hal itu adalah meeting di hari Minggu. Imbas pernikahan Anang-Ashanti Sabtu kemarin terhadap kelangsungan hidup manusia sudah mulai terasa. 

Long story short, gue berangkat nemuin klien itu, sekitar 3 jam kita ngomongin tentang penderitaan anak-anak bangsa Afrika, obat kanker yang masih belum ditemukan, bertukar koleksi pin bb cewek lucu dan barter koleksi film bokep sebagai puncaknya. YA ENGGAK LAH!

Presentasi berjalan lancar, entah berapa kali dia (klien) nganggukin kepala sok ngerti apa yang gue omongin. Taik. Setelah selesai presentasi dan menyampaikan beberapa kalimat basa-basi, gue pamit cabut.

Selesai.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Iya iya, gue tau. Gue, temen-temen gue, temen-temen bokap nyokap gue juga bertanya-tanya apa hubungannya judul sama isi postingan kali ini.

but, not now..

Procrastination is fun. I’ll post something about it later..